Banjir Kanal Timur, Bagaimana dengan Eramas 2000?


Penanganan masalah banjir di kota Jakarta kerap dilakukan, bahkan sejak masa kolonial Belanda, waktu Jakarta masih bernama Batavia, macam-macam cara ditempuh pemerintah untuk menanggulangi Jakarta dari banjir, salah satunya adalah pembangunan kanal banjir. Ada dua, umum disebut dengan nama: Banir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT).

Banjir Kanal adalah saluran air yang didesain agar air, dalam hal ini dari sungai Ciliwung, tidak melewati tengah kota, tapi pingggiran kota. Banjir kanal merupakan gagasan Prof H van Breen dari Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW, cikal bakal Departemen PU, yang dirilis tahun 1920. Studi ini dilakukan setelah banjir besar melanda Jakarta dua tahun sebelumnya.

Inti konsep ini adalah pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta. Termasuk juga disarankan adalah penimbunan daerah-daerah rendah.

Antara tahun 1919 dan 1920, gagasan pembuatan Banjir Kanal dari Manggarai di kawasan selatan Batavia sampai ke Muara Angke di pantai utara sudah dilaksanakan. Sebagai pengatur aliran air, dibangun pula Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet.

Daerah yang terlintasi BKT

BKT direncanakan untuk menampung aliran Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. Daerah tangkapan air (catchment area) mencakup luas lebih kurang 207 kilometer persegi atau sekitar 20.700 hektar. Rencana pembangunan BKT tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2010 Provinsi DKI Jakarta.

BKT akan melintasi 13 kelurahan (2 kelurahan di Jakarta Utara dan 11 kelurahan di Jakarta Timur) dengan panjang 23,5 kilometer. Total biaya pembangunannya Rp 4,9 triliun, terdiri dari biaya pembebasan tanah Rp 2,4 triliun (diambil dari APBD DKI Jakarta) dan biaya konstruksi Rp 2,5 triliun dari dana APBN Departemen Pekerjaan Umum.

Yang menarik bagi warga eramas 2000 adalah: Adakah pengaruh langsung dengan penurunan titik muka air ketika banjir besar seperti tahun 2007?

Kalau kita kita lihat sungai yang melintas di depan perumahan eramas 2000 :

Tampak Garis hitam melintang adalah sungai di depan perumahan

Keinginan untuk memanfaatkan sungai ini menuju BKT nampaknya perlu perjuangan panjang. Karena aliran air saat ini justru mengalir dari arah BKT menuju perumahan eramas 2000 ini.

Aliran Sungai yang terputus oleh BKT

Tampak di seberang BKT (di daerah pondok kopi) adalah aliran sungai yang semula menyambung ke depan eramas 2000. Ironisnya di tepi lain yang bersebrangan di BKT ini, potongan sungai itu tidak nampak. Bahkan di sekitar sungai yang tersisa tersebut, lokasi tersebut sudah kering dan beberapa penduduk memanfaatkannya sebagai tempat kandang ayam…

Jelas, keinginan untuk membalikan aliran sungai ke BKT membutuhkan campur tangan Departemen Pekerjaan Umum atau Pemda Jakarta Timur.

About eramas2000

Admin
This entry was posted in Pembangunan Sekitar Eramas 2000 and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s