Narkoba dan Efeknya di Otak


Kejadian Pengemudi Xenia Maut di Tugu Tani pada hari Ahad pagi 22 Januari 2012, kembali mengingatkan siapa saja akan bahaya Narkoba, bukan hanya bahaya terhadap dirinya sendiri, tapi juga orang lain. Mengemudikan kendaraan  di bawah pengaruh narkoba dan minuman keras, ditambah rasa kantuk dan lelah karena kehidupan hedonis semalaman  di perbagai tempat hiburan menyebabkan seorang Aryani Susanti (29) harus menewaskan 9 orang, dan 3 luka kristis. Berikut ini tinjauan medis pengaruh narkoba pada diri kita. Kesalahan-kesalahan lain tidak kita bicarakan disini.

Korban akibat pengemudi mabuk dan atau pengaruh narkoba

ANGKA resmi korban penyalah guna narkoba berdasarkan Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah 3,2 juta orang dari 220 juta penduduk Indonesia. Pertanyaannya, berapa banyakkah dari jumlah korban tersebut yang tahu efek narkoba di otak?

Dalam dunia adiksi dikenal teori ten- tang faktor risiko dan faktor pelindung. Besarnya faktor risiko memegang peranan penting yang menyebabkan seseorang menjadi pecandu. Sebaliknya, besarnya faktor pelindung akan semakin menjauhkan seseorang untuk menjadi pecandu.

Salah satu faktor risiko adalah tidak tahu dampak narkoba di otak.

Otak manusia
Otak manusia yang beratnya kurang lebih 2 kg masih banyak menyimpan rahasia yang belum terkuak. Sel-sel saraf di otak manusia jika direntangkan akan mempunyai panjang beribu-ribu kilometer. Sedangkan jumlah sel-sel saraf di otak berjumlah paling sedikit 100 miliar. Seluruh sel otak satu sama lain saling berhubungan, jalin-menjalin, membentuk jaringan yang bisa memengaruhi satu dengan lainnya.

Kenyataan lain ialah otak manusia begitu mengagumkan. Ia tidak pernah berhenti bekerja selama manusia itu masih hidup. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan listrik otak yang dapat dilihat pada hasil EEG (electro encephalography).

Dalam penelitian dibuktikan adanya jaringan sel saraf otak di antara setiap jaringan terhadap persimpangan (synapse). Untuk mengantar impuls di dalam synapse terdapat zat-zat kimia yang berfungsi sebagai pengantar dan disebut sebagaineurotransmitter.

Jika ada rangsangan/hantaran listrik (nerve impulse) dari sel saraf (presynaptic neuron), antaran listrik tersebut akan menjalar melalui batang sel saraf (Axon) menuju ujung persimpangan (synapse). Di ujung dari sel saraf terdapat banyak kantung-kantung (synaptic vesicles) yang berisi neurotransmitter (lihat gambar Sel Saraf yang Diperbesar dengan Mikroskop Elektron).

Jika antaran listrik cukup kuat, kantung neurotransmitter akan banyak mengeluarkan nurotransmitter ke persimpangan (synapse). Kemudian neuotransmitter tersebut akan masuk ke reseptor di hulu saraf berikutnya (Dendrite) untuk meneruskan hantaran listrik itu ke sel saraf (neuron) berikutnya.

Satu neuron memiliki banyak cabang dendrite yang terjalin menjadi jaringan saraf. Setelah proses ini selesai, neurotransmitter akan kembali menuju kantung (Neurotransmitter Vesicles). Inilah yang disebut proses uptake.

Narkoba dapat mengganggu proses di atas dengan cara merangsang kantungneurotransmitter untuk banyak mengeluarkan neurotransmitter, atau dengan menghalangi proses uptake. Cara lain adalah dengan menduduki reseptor sehingga arus antaran listrik menjadi kuat.

Jenis neurotransmitter
Ada banyak jenis neurotransmitter antara lain ialah:

  • Dopamin, bertanggung jawab akan timbulnya rasa nyaman, meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.
  • Serotonin, bertanggung jawab akan ‘mood’, rasa lapar, rasa kantuk. Kekurangan serotonin akan berakibat depresi.
  • Gama Amino Butyric Acid (GABA), bertanggung jawab akan timbulnya rasa tenang dan juga kantuk.
  • Endorphin, bertanggung jawab mengatur rasa nyeri.

Setiapneurotransmittertersebut mempunyai reseptor tertentu.

Dalam penelitian lebih lanjut telah ditemukan berbagai reseptor, khususnya yang bertanggung jawab akan reaksi otak terhadap golongan opiat/ opium, yaitu:

  • Reseptor Mu, bertanggung jawab terjadinya depresi terhadap laju bernapas, berkurangnya rasa nyeri (anelgesia), euforia, dan ketergantungan.
  • Reseptor Kappa, bertanggung jawab timbulnya rasa kantuk (efek sedasi) dan juga timbulnya ketergantungan.
  • Reseptor Sigma, bertanggung jawab timbulnya depresi, rasa sedih dan juga halusinasi.
  • Reseptor Delta, bertanggung jawab timbulnya anelgesia.

Jadi, setiap saat terjadi dinamika yang unik dalam keluarnya neurotransmitter ke arah reseptor masing-masing. Hal ini terjadi secara normal yang dapat dipengaruhi oleh perasaan/mood di dalam diri manusia, ataupun hal-hal yang terjadi di luar diri manusia.

Di otak manusia juga terdapat bagian yang disebut sebagailymbic system yang sangat bertanggung jawab dalam terbentuknya emosi, daya ingat, pengaturan suhu tubuh. Pada otak juga dapat ditemui pusat pengaturan laju bernafas. Misalnya, orang dewasa dalam keadaan normal frekuensi bernafas 12-20 kali dalam semenit.

Pada otak juga terdapat pusat pengaturan irama jantung. Dalam keadaan normal jantung berdenyut 72-80 kali dalam semenit.

Dampak narkoba di otak Narkoba adalah semua zat yang dapat memengaruhi cara bekerja pikiran, perasaan, dan kehendak manusia. Dengan menggunakan definisi itu, secara langsung terlihat bahwa dampak penyalahgunaan narkoba ilah ke organ otak.

Berdasarkan efeknya di otak, narkoba dapat dibagi menjadi lima. Pertama, depresan, yaitu semua jenis narkoba yang menekan cara kerja otak, misalnya pil-pil penenang.

Kedua, alkohol, kelompok opiat (morfin, heroin, kodein dll). Ketiga, inhalan yang dapat digolongkan sebagai penekan fungsi otak.

Keempat, stimulan, semua jenis zat adiktif yang meningkatkan aktivitas kerja otak, misalnya kafein, nikotin, kokain, ekstasi, sabu-sabu.

Kelima, halusinogen, zat yang dapat menimbulkan halusinasi di otak, misalnya, ganja, LSD.

Saya yakin bahwa walaupun penggolongan di atas dapat digunakan, dampak yang terjadi tidak melulu seperti itu.

Hal ini karena otak manusia demikian hebatnya, sehingga jika orang menggunakan salah satu dari golongan depresan, bisa saja efek halusinasi timbul. Hal ini akibat dari tertekannya fungsi otak bagian tertentu, sehingga bagian otak yang lain menjadi lebih aktif dan halusinasi timbul.

Depresan
Pil-pil penenang golongan benzodiazepam, menimbulkan efek di otak dengan memengaruhineurotransmitter GABA yang bertanggung jawab akan sadar-tidaknya manusia dan juga pada reseptor yang mendatangkan rasa nyaman.

Jika pemakaian obat ini diteruskan sampai empat minggu tanpa pengawasan, biasanya setelah dihentikan akan muncul gejala putus zat dan akan berdampak timbulnya toleransi zat, perilaku adiksi pada pengguna.

Pada penggunaan golongan opiat (misal heroin), yang dipengaruhi adalah reseptor di otak yang bertanggung jawab pada timbulnya rasa nyeri, rasa nyaman dan juga reseptor kesadaran.

Pemakaian obat ini selama dua minggu terus-menerus, akan berdampak timbulnya toleransi zat, perilaku adiksi dan gejala putus zat.

Alkohol
Penggunaan alkohol (minuman beralkohol) akan memengaruhi berbagai area di otak termasuk sistem neurotransmitter. Dopamin akan meningkat sehingga akan timbul efek euforia, tetapi pada dosis tertentu juga akan merangsang reseptor GABA, sehingga menurunkan kesadaran. Efek minuman alkohol dapat ditentukan dari jumlah kadar alkohol yang terdapat dalam darah (blood alcohol level/BAC). Sebagai gambaran, satu gelas anggur biasanya akan meningkatkan kadar BAC sebanyak 15-20 mg/100 ml darah (lihat tabel Kadar Alkohol dalam Darah).

Inhalan (Solvent)
Jenis ini adalah berbagai zat kimia yang dapat larut dalam lemak dan dengan cepat dapat memengaruhi kerja otak (menembus hambatan darah otak). Efeknya pada otak digolongkan kepada golongan depresan. Misalnya, tiner, pembersih kuku, berbagai jenis lem, aerosol, bensin.

Cara kerja di otak dengan memengaruhi berbagai neurotransmitter di selsel saraf otak. Gejala yang terjadi (high) cepat sekali, yaitu hanya dalam hitungan menit hingga seperempat jam. Jenis ini sangat potensial menimbulkan berbagai gejala kerusakan otak (organic brain syndrome).

Gejala yang biasa timbul pada keracunan inhalan dapat dilihat pada tabel Gejala Keracunan Inhalan.

Stimulan 
Hampir semua stimulan akan mengganggu proses neurotransmitter (dopamin, serotonin) di otak, yang efeknya akan memperbanyak dopamin dan serotonin, sehingga terjadi apa yang disebut sebagai ‘banjir dopamin’. Banyaknya dopamin akan mengakibatkan gejala- gejala euforia, tekanan darah dan denyut jantung meningkat, serta gelisah.

Penggunaan selama dua minggu secara rutin (ekstasi, sabu, kokain), biasanya akan menimbulkan toleransi zat perilaku adiksi dan gejala putus zat.

Halusinogen 
Efek ganja yang terberat adalah di otak. Kerusakan otak yang terjadi merupakan kerusakan yangirreversible atau tak dapat diubah. Efek ganja di otak tergantung dari lama, jumlah dan cara pemakaian. Efek yang terjadi ialah euforia, rasa santai, mengantuk dan berkurangnya interaksi sosial. Pada kasus-kasus keracunan (pemakaian dalam jumlah sangat banyak) dapat muncul perasaan curiga yang berlebihan (paranoid), halusinasi visual.

Pada penggunaan yang lebih dari tiga bulan maka akan terdapat kelainankelainan pada EEG dan perubahan pada struktur limbic system dan muncul gangguan-gangguan emosional yang menetap. Dampak ini akan menjadi sangat berat khususnya pada remaja yang perkembangan otaknya sedang bertumbuh.

Otak manusia merupakan suatu organ yang sangat berharga. Sebab, setiap manusia dapat mengekspresikan pikiran dan dirinya melalui pekerjaan dari otak. Oleh karena itu, adalah tindakan yang tidak bijaksana apabila seorang manusia mengulangi kesalahan yang sama atau dengan kata lain sudah tahu akibatnya tetapi masih ingin melakukannya. Itulah yang terjadi dengan penyalahgunaan narkoba.

Sepanjang pengetahuan saya, sampai saat ini belum ada teknik transplantasi untuk menggantikan bagian-bagian otak yang telah rusak.

Lebih baik mencegah 
Tindakan pencegahan masih merupakan pilihan yang terbaik dan hampir semua lapisan masyarakat dapat melakukan tindakan pencegahan. Paling tidak dengan menyampaikan informasi yang objektif mengenai dampak narkoba di otak dan organ tubuh lainnya.

Tindakan preventif yang lebih efektif lagi ialah dengan mengatur strategi yang tepat terhadap suatu kelompok, misalnya komunitas sekolah dan tem-pat kerja.

Modul pelatihan yang diberikan oleh Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) salah satunya berisi tentang dampak narkoba di otak, dengan keyakinan bahwa informasi ini sangat penting untuk diketahui oleh para peserta program pelatihan, sehingga dengan pengetahuan itu dapat dengan tegas menolak ketika tawaran untuk menyalahgunakan narkoba datang.

Menolak narkoba dengan tegas, karena otak yang mengagumkan itu, yang beratnya kurang lebih hanya 2 kilogram itu, bisa rusak berat akibat narkoba. Menolak narkoba, adalah menyelamatkan otak sendiri (dan nyawa orang lain).***

Penulis : Iskandar  Hukom
Dokter lulusan Fakultas Kedokteran UI, dari Media Indonesia 15 Desember 2007

About eramas2000

Admin
This entry was posted in Info Warga, Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s